Tiga Patokan Akhlak Sebenarnya Seseorang


Terkadang kita melihat sekilas akhlak seseorang luar biasa sekali baiknya. Teman-temannya menilai akhlak dan muamalahnya baik. Ternyata itu belum tentu mencerminkan akhlak aslinya atau akhlak sebenarnya. Contohnya:

-Ramah, sering membantu dan terkadang mentraktir temannya, tetapi ternyata dengan istrinya ia dzalim, tidak memenuhi hak istri, sering bentak, tidak ramah di keluarga dan ada salah sedikit langsung marah dan emosi

-Ada juga yang baik, ramah, sebagai atasan ia baik dan memudahkan urusan bawahannya akan tetapi ternyata masalah muamalah harta ia khianat, bisnis sering menipu, harta umat dan orang ia korupsi dan sering menumpuk hutang

Wal’iyadzu billah

Tetapi ingat! Kita harus menilai seseorang secara dzahirnya, tidak boleh berburuk sangka

“Jangan-jangan sama istrinya dzalim” dan sebagainya

Syariat mengajarkan tiga patokan akhlak sebenarnya seseorang.

Ini digunakan untuk menilai akhlak seseorang dan sekaligus poin yang harus kita perhatikan bersama untuk muhasabah akhlak kita. Hendaknya kita punya waktu-waktu khusus untuk terus memperbaiki akhlak dengan cara berusaha mengevaluasinya secara rutin dan berkala.

Jangan kita mengaku beriman jika akhlak kita rusak dan tidak baik, karena akhlak adalah cermin keimanan seseorang sebagaimana dalam hadits.[1]

Tiga poin tersebut adalah:

1.Muamalah dengan Istrinya/ Bagaimana testimoni Istrinya

Karena yang paling baik baik akhlaknya adalah paling baik dengan Istrinya[2]

Karenanya testimoni Istri-Istri Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat baik yaitu akhlak beliau adalah Al-Quran

Bisa jadi ia baik dengan orang luar karena memang statusnya rendah di masyarakat misalnya (maaf) hanya jadi cleaning servise. Tentu akhlaknya akan baik (tidak berani macam-macam dan tidak “berulah”)

Tetapi dengan istrinya ia kasar, dzalim dan tidak menunaikan hak-hak Istri

Poinnya: akhlak seseorang bisa dilihat ketika kapan Ia berkuasa dan leluasa atau bisa saja berbuat dzalim tetapi ia mampu menahannya.

2.Muamalah ketika safar

Karena safar dahulu adalah saat-saat sulit dan sebagian dari adzab. Ketika  senang semua bisa jadi teman tetapi ketika susah belum tentu semua bisa jadi teman yang baik.

Inilah yang dijadikan patokan oleh Umar bin Khattab ketika ada orang yang merekomendasikan kebaikan seseorang.[3]

Poinnya: ketika masa-masa sulit kemudia anda punya teman, itulah teman sejati anda dan itulah akhlaknya yang sebenarnya.

3.Muamalahnya dengan urusan harta

Karena harta adalah salah satu fitnah/ujian terbesar  umat  Islam. [4]

Bisa jadi gelap mata karena harta. Karena warisan anak dan paman bisa saling bermusuhan bahkan saling bunuh. Bisa jadi tidak amanah ketika bisnis dan berdagang.

Akhlak baik dan sering membantu ternyata korupsi harta umat.

Ini juga yang dijadikan patokan Umar bin Khattab ketika ada orang yang merekomendasikan kebaikan seseorang.[5]

Semoga Allah selalu memperbaiki  akhlak kita karena yang paling banyak memasukkan ke dalam surga adalah akhlak yang baik.[6]

Demikian semoga bermanfaat

@Markas YPIA, Yogyakarta tercinta
Penyusun:  Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka,
 (HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284)

[2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya (HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284)

[3] Umar bin Khattab berkata:
فَرَفِيقُكَ فِي السَّفَرِ الَّذِي يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى مَكَارِمِ الأَخْلاقِ
“Apakah dia pernah menemanimu dalam safar, yang safar merupakan indikasi mulianya akhlak seseorang?” (Ibnu Hajar berkata, Dishahihkan oleh bin Sakan, ini dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil 8/260 no 2637)

[4] Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta” (HR. Bukhari)

[5] Beliau berkata:
فَعَامِلُكَ بِالدِّرْهَمِ وَالدِّينَارِ ، اللَّذَيْنِ يُسْتَدَلُّ بِهِمَا عَلَى الْوَرَعِ
“Apakah dia pernah bermuamalah denganmu berkaitan dengan dirham dan dinar, yang keduanya merupakan indikasi sikap wara’ seseorang?” (Idem)

[6] sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Merasa Berjasa Dalam Dakwah

Terkadang kita sudah berusaha ikhlas
sudah berusaha melawan keinginan lain di balik dakwah
melawan keinginan mendapatkan mendapatkan ketenaran dalam dakwah
melawan keinginan mendapatkan bagian dunia dari dakwah (mukafaah)

dan kita sudah yakin insyaAllah akan mendapat pertolongan dunia-akhirat jika kita menolong agama Allah, sebagaimana firman-Nya.
يا أيها الذين آمنوا إن تنصر الله ينصركم
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu.” ( Muhammad: 7).

Akan tetapi tetap saja setan berusaha menjerumuskan manusia dalam kelalaian dan kebinasaan. Sebagaimana janji Iblis laknatullah,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ , إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Shaad: 79-83)

Cara yang ditempuh Iblis itu adalah membuat aktifis dakwah “merasa memiliki jasa dalam dakwah”
“Kalau bukan saya, dakwah di kita ini tidak jalan”
“Saya yang menggagas dakwah di ma’had ini”
“saya yang membimbing ia agar mendapat hidayah”
“Saya pencetus dan penggerak program hapalan ini”

Hal ini mengingatkan kita bersama dengan kisah Arab badui yang datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia mengaku dan menampakkan diri bahwa dirinyalah yang telah berjasa menolong beliau, berjasa telah membantu Islam dan Nabi, akan tetapi ini sungguh terbalik. Akhirnya diabadikan dalam Al-Quran,
يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُل لّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلامَكُم بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإِيمَانِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Mereka merasa telah berjasa kepadamu dengan keIslaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keIslamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang jujur.” ( Al-Hujurat: 17)

At-Thabari rahimahullah berkata,
وذُكر أن هؤلاء الأعراب من بني أسد, امتنوا على رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم, فقالوا: آمنا من غير قتال, ولم نقاتلك كما قاتلك غيرنا, فأنـزل الله فيهم
“Disebutkan bahwa mereka adalah Arab badui dari bani Asad yang menyebut-nyebut (jasa) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam , mereka berkata, kami masuk Islam tanpa peperangan, kami tidak memerangimu sebagimana orang yang lain. Maka Allah menurunkan Ayat ini.”[1]
Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan,
يَمُنُّ هؤلاء الأعراب عليك -أيها النبي- بإسلامهم ومتابعتهم ونصرتهم لك، قل لهم: لا تَمُنُّوا عليَّ دخولكم في الإسلام؛ فإنَّ نفع ذلك إنما يعود عليكم، ولله المنة عليكم فيه أنْ وفقكم للإيمان به وبرسوله، إن كنتم صادقين في إيمانكم.
“Orang Arab Badui (bani Asad) menyebut-nyebut (jasa) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan masuk Islamnya mereka, mengikuti dan menolong. Maka katakan kepada mereka, jangan sebut jasa kalian dengan masuk Islam karena manfaatnya kembali kepada kalian. Allah yang memberikan kenikmatan kepada kalian yaitu memberikan taufik dalam keimanan. Jika iman kalian benar.”[2]

Semoga kita sadar..
Bahwa bisa saja Allah meolong agama ini bukan dari tangan kita, melainkan tangan orang lain, atau bahkan bisa jadi dari tangan orang yang fasik.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَأَنَّ اللهَ يُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ
Terkadang/boleh jadi Allah menolong agama ini dengan orang yang fajir/pelaku maksiat[3]
Kita tidak perlu kaget dengan hadits ini, karena bahkan terkadang Allah menolong agama ini dengan orang kafir seperti Abu Thalib paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnu Batthal rahimahullah berkata menjelaskan hadits ini,
وقوله: (إن الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر) يشتمل على المسلم والكافر، فيصح أن قوله: (لا نستعين بمشرك) خاص فى ذلك الوقت
“Sabda beliau, ‘Terkadang/boleh jadi Allah menolong agama ini dengan orang yang fajir alias pelaku maksiat’, mencakup orang muslim dan orang kafir, sabda beliau shohih yaitu ‘kita tidak perlu meminta bantuan kepada orang musyrik”, maka hadits ini khusus pada waktu tersebut [tidak bertentangan, pent]”[4]

Ibnu Hajar Al-Asqalaniy rahimahullah menjelaskan hadits ini,
جزم بن المنير والذي يظهر أن المراد بالفاجر أعم من أن يكون كافرا أو فاسقا ولا يعارضه قوله صلى الله عليه وسلم إنا لا نستعين بمشرك
“Ibnul Munir menegaskan bahwa pendapat terkuat yang dimaksud Al-fajir adalah lebih umum dari kafir atau fasik dan tidak bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ‘kita tidak perlu meminta bantuan kepada orang musyrik.”[5]

Semoga kita tersadar
Dan Allah selalu menjaga hati kita.
Wallahu musta’an.

@Pogung-Lor, Yogyakarta tercinta
penyusun:   Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

Ketegaran Sang Ombak

Pernah dengar kata-kata "tegar bagai karang yang diterjang ombak"?

Coba renungkan, sebenarnya siapa yang lebih tegar, karang atau ombak?



Lihatlah Ombak, tidak pernah menyerah menerjang Karang. Ketegaran ombak adalah kesabaran yang tidak mengenal kata “henti” menghancurkan penghalang dan merubah keadaan demi mencapai cita cita. Lebih “TEGAR” daripada karang yang menahan gangguan tanpa berbuat apa apa.

Lihat juga tetesan air yang jauh lebih kecil dari ombak. Sekeras apapun batu, bisa berlubang olehnya. Ketegaran tetesan air adalah kesabaran tidak mengenal kata “henti” mengatasi tantangan, menciptakan peluang demi mencapai tujuan.

Air menunjukkan ketegarannya dalam segala bentuk. Apapun yang menghalanginya, air selalu berusaha bergerak. Lihat juga air tanah, uap air, awan, es, sungai & bentuk bentuk air lainnya.

Ketegaran air adalah kesabaran yang tidak mengenal kata “henti”, mempertahankan prinsip dalam berbagai kondisi. Apapun yang terjadi, apapun bentuknya, Air tetaplah Air; meskipun menjadi es/ uap, apapun yang larut di dalamnya, Air tetaplah Air.

Ketegaran air adalah keteguhan pendirian..

Tegarlah bagai air..
Karena ketegaran air adalah ketegaran yang tidak bisa digoyahkan bagaimanapun..
Oleh apapun & siapapun..
Sampai kapan pun..

Korupsi Waktu

Termasuk korupsi waktu adalah tidak bekerja di jam kerjanya tanpa izin yang jelas atau menggunakan jam kerja untuk keperluan lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Hal ini dilarang oleh syariat dan hendaknya ia menunaikan kewajibannya.



Termasuk yang diperhatikan dalam pembahasan korupsi adalah korupsi waktu. Di mana seseorang lalai dengan amanah mengenai waktu yang telah dijanjikan atau disepakati misalnya dalam hal pekerjaan atau sesuatu yang berkaitan dengan waktu. Contoh korupsi waktu misalnya seorang pegawai atau PNS yang tidak amanah dalam waktu, masuk kerja terlambat dan tanpa izin atau bahkan makan gaji buta tanpa kerja sama sekali.

Hendaknya seseorang menunaikan amanatnya

Bagi seorang pegawai yang telah berjanji akan melaksanakan amanahnya, yaitu bekerja dengan waktu-waktu tertentu dan ia memang digaji untuk hal itu, hendaknya berusaha menunaikan amanahnya sebaik mungkin, begitu juga dengan jam kerjanya, hendaknya ia gunakan jam kerja yang telah disepakati untuk benar-benar bekerja sesuai dengan amanahnya. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita agar menunaikan amanah dengan profesional dan sebaik mungkin.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kalian untuk menunaikan amanat kepada yang berhak” (An Nisaa’: 58).

Seorang muslim juga berusaha menunaikan dan melaksanakan persyaratan yang telah ia setujui.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوطِهِمْ

“Umat Islam berkewajiban untuk senantiasa memenuhi persyaratan mereka” (HR. Muslim).

Termasuk ciri munafik (shugra/kecil) adalah tidak menepati janji atau persyaratan yang telah ia setujui.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tiga tanda munafik ada tiga, jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari dan ketika diberi amanat, maka ia berkhianat” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang pegawai harus bekerja sesuai dengan jam kerjanya

Termasuk korupsi waktu adalah tidak bekerja di jam kerjanya tanpa izin yang jelas atau menggunakan jam kerja untuk keperluan lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Hal ini dilarang oleh syariat dan hendaknya ia menunaikan kewajibannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ الأُمَّهَاتِ، وَوَأْدَ الْبَنَاتِ، وَمَنَعَ وَهَاتِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan mendurhakai ibu, membunuh anak perempuan, dan mana’a wahaat” (HR. Bukhari dan Muslim).

Arti dari (منع وهات) “mana’a wahaat” adalah tidak mau melaksanakan kewajiban atau menuntut apa yang bukan menjadi haknya.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata menjelaskan hadits,

أنه نهى أن يمنع الرجل ما توجه عليه من الحقوق أو يطلب ما لا يستحقه

“Rasulullah melarang seseorang tidak melaksakan kewajiban yang ada padanya atau menuntut apa yang bukan menjadi haknya.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim)

Jadi, seorang muslim tidak boleh hanya menuntut haknya saja, menuntut dibayarkan gaji bulanan secara rutin, sedangkan ia tidak menunaikan amanahnya dengan baik. Tidak masuk kantor tepat waktu, itupun masuk kantor pada jam-jam tertentu saja dan sering bolos, keluar tanpa izin, menggunakan waktu jam kantor untuk bermain game atau urusan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya.

Bagaimana dengan beribadah ketika jam kerja

Beribadah di waktu jam kerja misalnya shalat dhuha atau mengaji perlu dirinci, jika ibadah yang wajib seperti shalat dzuhur, maka saat itu pekerjaan wajib ditinggalkan dan seharusnya atasan memberikan waktu untuk menunaikan shalat wajib. Akan tetapi untuk ibadah yang sunnah misalnya shalat dhuha, maka sebaiknya jangan meninggalkan jam kerja untuk shalat dhuha kecuali atasan telah memberi izin atau atasan telah memaklumi atau bisa juga dilakukan di sela-sela waktu istirahat.

Berikut Fatwa dari Al-Lajnah Ad-Daimah (semacam MUI di Saudi) terkait hal ini.

Pertanyaan:


هل يجوز أداء صلاة الضحى خلال وقت الدوام الرسمي ، خاصة إذا تزايد عدد المصلين إلى حد قد يؤدي إلى التأخير في إنجاز العمل الرسمي؟ آملين أن تكون الإجابة مكتوبة. جزاكم الله خيرًا .

“Apakah diperbolehkan (bagi karyawan) untuk mengerjakan shalat dhuha selama jam kerja resmi, terutama ketika bertambahnya orang yang shalat sehingga dapat menyebabkan pekerjaan mereka tidak selesai pada waktunya? Kami harap anda bias memberikan jawaban tertulis.”

Jawaban:

ج: الأصل أن النوافل في البيوت؟ لقوله صلى الله عليه وسلم: أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة ، وقوله صلى الله عليه وسلم: اجعلوا من صلاتكم في بيوتكم ولا تتخذوها قبورًا متفق عليه، وعلى هذا فلا ينبغي للموظف أن يعطل العمل الذي هو واجب عليه لأجل نافلة؛ لأن صلاة الضحى سنة فلا يترك واجب لأجل سنة، ويمكن للموظف أن يصلي الضحى في بيته قبل أن يأتي للعمل بعد ارتفاع الشمس قدر رمح، أي بعد خروج وقت النهي، ويقدر ذلك بعد شروق الشمس بربع ساعة تقريبًا.

Pada dasarnya, ibadah sunnah itu dikerjakan di rumah, karena beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة

“Seutama-utamanya shalat seseorang yaitu di dalam rumahnya, kecuali shalat fardhu” (HR. Bukhari & Muslim)

اجعلوا من صلاتكم في بيوتكم ولا تتخذوها قبورًا

“Jadikanlah sebagian shalat kalian di dalam rumah, dan janganlah kalian menjadikan rumah kalian sepeti kuburan” (HR. Bukhari & Muslim).

Seeorang karyawan seharusnya tidak menghentikan pekerjaannya yang menjadi kewajibannya dengan melakukan ibadah sunnah. Seorang karyawan bisa melakukan shalat dhuuha di rumah sebelum mereka berangkat bekerja sesaat setelah terbitnya matahari, yaitu setelah waktu nahiy (Waktu dilarang untuk melakukan shalat yaitu setelah shalat subuh hingga terbitnya fajar) sekitar 15 menit setelah matahari terbit.

Termasuk memakan harta dengan cara yang batil jika terus-menerus korupsi waktu

Jika korupsi waktu terus-menerus dilakukan oleh seorang pekerja, sementara ia terus menerima gaji utuh, bisa jadi ia menerima gaji buta. Demikian ini termasuk memakan harta dengan cara yang batil. Hartanya bisa jadi tidak berkah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Ustaimin rahimahullah menjelaskan,

و نظرنا لمجتمعنا اليوم لم نجد أحداً يسلم من خصلة يفسق بها، إلا مَنْ شاء الله، فالغِيبة فسق وموجودة بكثرة، والتغيب عن العمل، والإصرار على ذلك، وكونه لا يأتي إلا بعد بداية الدوام بساعة، ويخرج قبيل نهاية الدوام بساعة مثلاً، فالإصرار على ذلك فسق؛ لأنه ضد الأمانة، وخيانةٌ، وأكلٌ للمال بالباطل؛ لأن كل راتب تأخذه في غير عمل، فهو من أكل المال بالباطل

“Jika kita melihat masyarakat kita sekarang, maka kita akan mendapati tidak ada (sedikit) yang selamat dari sifat kefasiqan kecuali yang Allah kehendaki (selamat dari itu). Misalnya seperti perbuatan ghibah yang termasuk perbuatan fasiq (dan banyak terjadi), bolos kerja yang terus dilakukan, serta perbuatan pegawai yang terlambat masuk kerja (yang telah dimulai satu jam sebelumnya) dan pulang kerja satu jam lebih cepat dari yang seharusnya.Terus menerus melakukan hal itu adalah termasuk kefasiqan karena ini termasuk berkhianat dan tidak sesuai amanah serta memakan harta dengan cara yang batil. Karena setiap gaji yang anda terima tanpa diimbangi dengan pekerjaan maka ini termasuk memakan harta dengan cara yang batil” (Asy-Syarh al-Mumti’ 15/278).

Oleh karena itu, mari kita tunaikan amanah yang kita pikul sebaik mungkin, sehingga harta yang kita dapatkan dari bekerja bisa mendapatkan berkah dan kebaikan yang banyak.

Demikian semoga bermanfaat

@RS Mitra Sehat, Wates, Yogyakarta tercinta

***

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel muslim.or.id

KETIKA ALLAH MENUNTUT IKHTIAR



Hampir sebagian isi Al Qur'an adalah kisah dan begitu juga ketika kita mempelajari sunnah Nabi Shallallhu'alaihi wassalam, kita akan bertemu dengan rentetan kisah yang menjadi sebab turunnya sebuah Ayat atau kisah yang melatarbelakangi sebuah hadist. Karena dari kisahlah manusia dapat mudah mengambil makna dan pelajaran.

Salah satu guru yang pandai berkisah adalah ustadzuna Iwan Kurniawan. Presiden GENPRO yang juga pengusaha Fashion ini kemudian sangat banyak berturur tentang kisah dalam berbagai kesempatan. Tulisan tersebut terinspirasi dari bahasan beliau akan potongan surah Maryam.

******

Pada surah Maryam ayat 23 sd 25, kita akan membaca sebuah rentetan kisah tentang bagaimana perjuangan seorang Maryam dalam melahirkan Isa 'alaihissalam. Seorang wanita suci yang beri'tikaf di masjid kemudian harus mengalami kehamilan dan difitnah atas kejadian itu. Maryam pun diusir hingga melahirkan dalam kesendirian.

Kehebatan cobaan bagi seorang Maryam direkam Allah pada ayat 23 : "Alangkah baiknya aku mati sebelum ini..." menandakan sebuah titik nadir dalam jiwa yang hampir menyentuh lantai dasar keimanan Maryam. Namun kemudian Jibril menghiburnya, dan melalui Jibril, Allah memberi petunjuk kepada Maryam :

"Goyangkanlah pangkal pohon kurma ke arahmu.."

Mari kita simak keunikan rangkaian ketiga ayat ini. Awalnya Maryam sudah menunjukkan perasaan putus asa yang luar biasa, tetapi di titik nadir perasaannya, Allah masih menuntutnya untuk melakukan sesuatu : "Goyangkanlah pangkal kurma..."

Seorang wanita yang telah hamil besar, yang sedang terusir dari kampungnya, yang sedang berat hatinya dalam kecamuk fitnah, yang sendirian dalam masa akan melahirkan, harus lagi dituntut untuk menggoyang pangkal kurma. Dimana belas kasih Allah?

Padahal disaat Maryam sehat dalam i'tikafnya, makanan turun terhidang lezat tanpa usaha yang signifikan.

Disinilah rahasia dan pelajaran yang kita harus perhatikan, hadirnya makanan di mihrab adalah jalan Allah memperkenalkan dirinya, bahwa Dialah Allah yang berkuasa atas segala sesuatu, yang mudah bagi Allah untuk melakukan apa yang Dia kehendaki.

Tetapi ketika Maryam diuji dengan cobaan keimanan, Allah mendidik Maryam untuk menjalani takdirnya sebagai manusia. Manusia yang dituntut untuk selalu berikhtiar. Manusia yang selalu harus melawan keputus asaannya. Manusia yang selalu harus bergerak, entah seperti apa perasannya saat itu, Dalam kondisi apapun.

Maka ikhtiar atau usaha menjadi sebuah rukun gerak yang harus ditunaikan. Tidak pantas bagi seorang muslim untuk kemudian berharap keajaiban, tanpa diiringi dengan ikhtiar dan usaha maksimal.

*****

Didalam proses bisnis, akan ada suatu masa dimana kita akan merasakan apa yang dirasakan oleh Maryam. Rasanya pengen "udahan ajah". Dan itu adalah sunnatullah yang akan dihadapi oleh setiap orang yang memang benar-benar memilih bisnis sebagai jalan hidup.

Maka rukun kebangkitan yang harus dilakukan oleh seorang pebisnis adalah berusaha. Seperti Maryam yang harus menggoyang pangkal kurma, seperti Musa AS yang harus memungkulkan tongkat ke lautan, seperti Nabi Muhammad Shallallhu'alaihi Wassalam yang harus menggali parit khandaq atau seperti Al Fatih yang harus menjalankan 80 kapal keatas bukit galata. Semua sosok tersebut mengalami pertolongan langsung dari Allah, namun semuanya diawali dengan usaha yang serius. Mendekati memaksimalkan usahanya hingga mendekati batas-batas insaniyah mereka.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Semoga kita tidak termasuk para pebisnis yang hanya duduk menunggu keajaiban. Tetapi terus bergerak menunjukkan keseriusan di hadapan Allah Subhanahu wata'ala, semoga setelah semua usaha sudah dikerahkan, Allah berkenan menolong dan menghadirkan keajaiban, yang tidak bisa dijangkau oleh logika insani. Semoga.

Rendy Saputra
CEO KeKe Busana
Pengajar di Sekolah Bisnis duakodikartika.com

Progres Terkini Pembangunan Pondok Pesantren Idris Bintan

Foto-foto ini merupakan dokumentasi progres terkini pembangunan Pondok Pesantren Idris Bintan Yayasan Al Idris Kepri pada bulan Agustus dan September.

Alhamdulillah, atas kemurahan hati dan uluran tangan dari para donatur sekalian pembangunan Ponpes Idris Bintan bisa sampai sejauh ini. Terima kasih banyak kami ucapkan kepada pada donatur atas kontribusinya yang besar ini.

Tentunya perjalanan pembangunan Pesantren ini masih panjang, terlebih lagi kita punya harapan agar prasyarat Ponpes Idris Bintan ini sudah siap di akhir tahun 2016, agar Ponpes Idris Bintan sudah dapat beroperasi tahun 2017, tahun ajaran 2017/2018.

Oleh karena itu, kami membuka seluas-luasnya kesempatan bagi Bapak Ibu Abang Kakak Adik Rekan sekalian untuk menjadi donatur dan beramal jariyah dalam proses pembangunan Ponpes Idris Bintan ini.

Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada para donatur. Bagi yang mau menjadi donatur, silahkan klik INI dan isi formnya ya. Kita juga membuka laman donasi di Kitabisa.com. Bapak Ibu Abang Kakak Adik Rekan sekalian juga dapat berdonasi disini. Yuk Bantu Share.



Gambar 1. Kondisi PPIB pada Bulan Agustus 2016

Gambar 2. Kondisi PPIB pada Bulan September 2016





Saat di Mana Dakwah Dengan Sikap Lebih Dibutuhkan Daripada Dakwah Dengan Lisan

Terkadang ada saatnya dakwah dengan sikap lebih mengena dan lebih baik daripada dakwah dengan lisan. Bahkan dakwah dengan sikap bisa jadi merupakan dakwah yang paling tepat dan mengena. Sebagaimana nasehat dari ulama:

Satu contoh akhlak dan adab yang baik bisa mengalahkan 1000 majelis ilmu tentang akhlak

Sebagaimana contoh seorang anak yang baru mengenal dakwah ahlus sunnah dan berusaha menerapkan sunnah seperti memelihara jenggot dan celana cingkrang. Di keluarganya ia berusaha berdakwah atau minimal menjelaskan mengapa ia memelihara jenggot yang lebat atau celana yang cingkrang yang kurang lazim di masyarakat.

Adalah dakwah yang bijak dan penuh hikmah jika ia menunjukkan perunahan sikap, akhlak, semangat yang lebih baik setelah mengenal dakwah ahlus sunnah. Ia menjadi lebih baik:

-Lebih berbakti kepada orang tua dan segera memenuhi panggilan orang tua

-lebih semangat dan rajin dalam belajar karena ajaran Islam agar berilmu

-Lebih baik adab dan akhlaknya kepada kepada orang tua dan keluarga

-Semakin rajin beribadah, shalat tepat waktu, rajin mengaji dan menghapal Al-Quran serta rajin mendoakan kedua orang tua dan sering mengingatkan mereka kepada akhirat

Sambil menunjukkan perubahan tersebut ia berusaha menasehati dan berdakwah kepada keluarga, orang tua, kakek, paman dan adik. Berdakwah dengan cara yang baik.

Begitu juga dengan seseorang di kantor dan tempat kerjanya. Berusaha menunjukkan adab dan akhlak Islam yang mulia, profesional dan amanah serta memudahkan urusan sesama. Bersamaan dengan perubahan ke arah yang baik, ia berusaha berdakwah dengan lisan kepada teman-temannya. Sehingga menunjukkan bahwa orang Islam dengan pemahaman ahlus sunnah itu mengajak kepada arah yang lebih baik.

Tentu berbeda hasilnya jika ia berdakwah kepada orang tua atau temannya di kantor dengan menukil banyak hadits dan dalil dengan gaya “menceramahi” diselingi dengan debat kecil dan di mana-mana selalu berdakwah dengan lisannya tanpa melihat kondisi dan keadaan. Sedangkan pada dirinya tidak ada perubahan ke arah yang lebih positif, baik itu ahklak, profesional dan semangat akan kebaikan.
Domisasi dakwah dengan Lisan bisa dilakukan oleh mereka yang ucapanya didengar dan memiliki kedudukan. Tentunya juga dengan tidak meninggalkan dakwah dengan sikap dan perbuatan.

Demikianlah ulama di zaman dahulu lebih diterima dan lebih berkah dakwahnya karena dakwah sikap dan perbuatan mereka lebih mengena kepada objek dakwah. Baik dengan adab dan akhlaknya yang mulia serta amanah yang mereka tunjukkan. Sehingga dakwah dengan lisan mereka lebih diterima.

Sering kali yang datang ke majelis ilmu para ulama adalah mereka yang hanya ingin sekedar melihat akhlak, adab dan semangat beragama mereka. Bahkan mereka tidak menulis ilmu sama sekali hanya ingin mencontoh akhlak dan adab para ulama.

Abu bakar bin Al-muthawwi’i rahimahullahu berkata,

اختلفت إلى أبي عبد الله ثنتي عشرة سنة، وهو يقرأ (المسند) على أولاده، فما كتبت عنه حديثا واحدا، إنما كنت أنظر إلى هديه وأخلاقه

“Aku berkali-kali mendatangi Abu Abdillah –yaitu imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu- selama 12 tahun, beliau sedang membacakan kitab Al-musnad kepada anak-anaknya. Saya tidaklah menulis satu hadits pun darinya tetapiHANYA ingin melihat kepada metode dan akhlaknya.” [Siyaru A’lamin Nubala’ 21/373, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah]

Berkata Ibnul jauzi rahimahullahu tentang gurunya syaikh Al-Anmaathirahimahullahu,

كنت أقرأ عليه وهو يبكي، فاستفدت ببكائه أكثر من استفادتي بروايته، وانتفعت به ما لم أنتفع بغيره

“saya biasa membacakan kitab kepada beliau dan beliau dalam keadaan menangis [karena takut Allah], maka saya mengambil faidah dari tangisannya lebih banyak daripada mengambil faidah dari riwayatnya (ilmunya) dan saya mendapatkan manfaat dengannya yang saya tidak dapatkan dari selainnya.“[Siyaru A’lamin Nubala’ 39/128, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah]

Demikian semoga bermanfaat

@Gemawang, Yogyakarta tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com