🌷 KABAR GEMBIRA….

 KABAR GEMBIRA….
 INFO PENERIMAAN SANTRI BARU (PSB)… PONDOK PESANTREN IDRIS KEPRI… Kp. Jeropet I Kawal Kec. Gunung Kijang Kab. Bintan
 Alhamdulillah… Telah hadir Pondok Pesantren Idris Kepri, mencetak Ulama Masa Depan pecinta Al Qur'an yang mahir berbahasa Arab dan Inggris dan memiliki semangat KeIslaman yang tinggi.
 Saat ini membuka Penerimaan santri baru (PSB) PERDANA untuk putra dan putri Tahun pelajaran 2017-2018, untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs)
✅ PENDAFTARAN GELOMBANG PERTAMA & TES MASUK :
 Pendaftaran : 16 Januari – 18 Maret 2017
 Setiap Hari
 Jam 08. 00 – 15. 00
 Tes Masuk & Wawancara Wali Santri Baru : 20 Maret 2017
 Pengumuman Kelulusan : 27 Maret 2017
✅ PENDAFTARAN GELOMBANG KE-2 & TES MASUK  :
 Pendaftaran : 28 Maret – 25 April 2017.
 Setiap Hari
 Jam 08. 00 – 15. 00
 Tes Masuk & Wawancara Wali Santri Baru : 26 April 2017
 Pengumuman Kelulusan : 30 April 2017
✍ MATERI UJIAN SELEKSI
1. Pendidikan Agama Islam
2. Tes Potensi Akademik
3. Membaca Al-Qur’an/Iqro’
 Segera Mendaftar… Jgn terlambat… Kuota terbatas…
✍ SYARAT PENDAFTARAN DAN MENJADI SANTRI:
1⃣ Usia maksimal 15 tahun.
2⃣ Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 150.000,-
3⃣ Mengisi formulir pendaftaran dengan melampirkan:
a. Surat keterangan dari sekolah asal yang mencantumkan NISN & nama yang akan ditulis di ijazah.
b. Pas photo berwarna 3 x 4 (berpakaian rapih, khusus putri berjilbab) 2 lembar.
c. Fotokopi Kartu Keluarga (KK) 2 lembar.
d. Fotokopi Akta kelahiran 2 lembar.
Teknis Pendaftaran :
➡ Langsung ke sekretariat PSB Ponpes Idris Setiap Hari
➡ Sekretariat PSB Ponpes Idris:
1. Jln. Jeropet I Kawal, Bintan.
2. Jln. Adi Sucipto Km.11 Ruko No.2 Lt II, Tanjungpinang.
 CONTACT PERSON (WA/Telpon/SMS) :
✅ Yayasan Al Idris Kepri : 0822 4889 0001
✅ Muhammad Rusydi : 0853 5578 2825
✅ Muhammad Abduh : 0852 7222 4626
Mohon maaf tidak melayani Telpon dalam waktu2 sholat
✅ Alhamdulillah Tenaga pengajar Ponpes Idris dibersamai alumni Universitas Al Azhar Cairo, Universitas Sudan, Universitas Jerman, LIPIA Jakarta & UIN Jakarta
 Baarokallahu fiikum… Mari bantu sebarkan informasi ini kepada yang lain… Jazakumullahu khairan katsir.

Manfaat Belajar di Pondok Pesantren

Sistem pendidikan mondok atau asrama sudah ada sejak zaman dahulu, ketika kita melirik pada sejarah tentang sistem pendidikan pada masa lampau banyak ditemukan peninggalan-peninggalan asrama atau gedung-gedung belajar yang difasilitasi penginapan untuk  para siswa.

 Manfaat Belajar di Pondok di Pesantren

 Manfaat Belajar di Pondok di Pesantren
Ada banyak jenis pendidikan yang memakai sistem asrama tergantung lembaga pendidikannya. seperti asrama militer, asrama bidan atau asrama jenis siswa lainnya.

Dalam artikel ini kita membahas tentang Hikmah dan Manfaat Anak Mondok di Pesantren, merangkum berbagai tanggapan dan pengakuan para siswa, orang tua dan para guru yang berada pada ruang lingkup pendidikan asrama.

Terjaga dari pengaruh buruk lingkungan bebas
Hal ini sudah pasti, anak yang tinggal di asrama atau pondok pesantren lingkungan belajarnya dibatasi dan ada skat-skat tertentu, bahkan dalam lingkungan itupun terkadang ada zona terlarang. terpisah lagi antara komplek putra dan putri. ini adalah salah satu bukti bahwa lingkungan pondok pesantren itu terjaga dari pengaruh yang dapat merusak pola fikir siswa.

Pembangunan Karakter
Bukan berarti di sekolah biasa tidak ada pembentukan karakter siswa, namun pada lingkungan pondok atau asrama pembangunan dan pembentukan karakter lebih cepat karena organisasi kependidikannya selalu ON, pembinaan terus menerus berjalan bukan hanya di dalam kelas tapi juga diluar kelas.

Kemandirian sangat terlihat di Pondok di Pesantren, mencuci pakaian, kegiatan teratur dan memepersiapakan segala sesuatu dengan telaten. disini juga dibina hidup sederhana. 

Ibadah terjaga
Ini sudah dapat dipastikan, dalam lingkungan pondok pesantren shalat lima waktu dan ibadah sunnah lainnya berjalan dan terprogram dengan baik. dibina dan didik ilmu agama secara bertahap sehingga mampu menguasai ilmu tersebut dengan baik.

Cerdas dan Jenius
Ini merupakan cetusan bagi pesantren yang bercorak pendidikan modern, santri atau siswa disini tidak hanya dididik untuk menguasai ilmu agama, atapi juga diupayakan pembinaan ilmu lainya agar bisa bersaing dengan siswa-siswa nasional umumnya.

Tidak jarang kita temukan anak pondok pesantren mahir berbahasa inggris dan bahasa asing lainnya dan mereka juga mampu memenangkan olimpiade tingkat nasional dan lain-lain.

Beberapa poin diatas adalah  Manfaat Belajar di Pondok di Pesantren dan masih banyak lagi manfaat yang bisa didapatkan sesuai jenis pesantrennya. namun ada kontra dari masyarakat tentang anak pesantren, kenapa ana pesantren kerap melakukan tindakan kriminal atau melanggar hukum agama dan lain-lain.

Perlu kita ketahui bahwa presepsi masyarakat untuk menyekolahkan anaknya  di Pondok di Pesantren sudah keliru, anak bandel atau anak yang nakal diserahkan ke pesantren berharap bisa dibina. pada hakikatnya tidak semua berhasil. apalagi siswa atau santrinya tidak sampai menyelesaikan pendidikan sampai tamat. 

Demikian sedikit penjelasan tentang Manfaat Belajar di Pondok di Pesantren semoga bermmanfaat dan bisa menjadi rujukan.

Sumber: www.zonapendidikan.com
Peran Pondok Pesantren dalam Masyarakat

Peran Pondok Pesantren dalam Masyarakat

Pesantren adalah lembaga pendidikan yang mempunyai kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Pendidikan di pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan dan pendidikan lainnya yang sejenis. Yang mana dalam pesantren para santrinya disiapka untuk dapat berbaur dalam pergaulan di masyarakat dengan adab yang sesuai dengan moralitas dalam agama Islam. Hal ini begitu diperhatikan karen lingkungan pondok pesantren berada dalam lingkungan masyarakat yang luas dan yang menilai baik buruknya dari sebuah pesantren tersebut adalah bagaiman adab dari santri jebolan pondok pesantren tersebut dengan masyarakat sekitar dan masyarakat asal daerahnya sendiri. Di dalam pondok pesantren ini peraturannya di kuasai penuh oleh sang kiyai atau pengasuh pondok. Jadi para santri dibimbing dengan jalan yang sama dan tida ada yang berbeda.

1.Definisi Pondok Pesantren

Perkataan pesantren berasal dari kata santri , dengan awalan pe di depan dan akhirn an berarti tempat tinggal para santri. Sedangkan asal-usul kata “santri”, dalam pandangan Nurcholis Madjid dapat dilihat dari dua pendapat. Pertama pendapat yang mengatakan bahwa “santri” berasal dari perkataan “sastri”, sebuah kata dari bahasa sansekerta yang artinya melek huruf. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa santri sesungguhnya berasal dari bahsa Jawa, dari kata “cantrik”, berartiseseorang yang selalu menggikuti seorang guru kemana guru ini pergi menetap. Di Indonesia istilah pesantren lebih populer dengan sebutan pondok pesantren. Lain halnya dengan pesantren, pondok berasal dari bahasa Arab funduq, yang berarrti hotel, asrama, rumah, dan tempat tinggal sederhana.

Sebagai lembaga pendidikan yang sudah lama berkembang di Indonesia, pondok pesantren selain telah berhasil membina dan mengembangkan kehidupan beragama di Indonesia, juga ikut berperan dalam menanamkan rasa kebangsaan ke dalam jiwa rakyat Indonesia, serta ikut berperan aktif dalam upaya mencerdaskan bangsa.

Sebagai konsekuensi keikutsertaan pondok pesantren dalam laju kehidupan kemasyarakatan yang bergerak dinamis, di pondok pesantren, selain berkembang aspek pokoknya, yaitu pendidikan dan dakwah; juga berkembang hampir semua aspek kemasyarakatan, terutama yang berkaitan dengan ekonomi dan kebudayaan. Berikut adalah beberapa contoh aspek kehidupan kemasyarakatan yang berkembang di pondok pesantren:

a.Pendidikan agama atau pengajian kitab
Pendidikan agama melalui pengajian kitab yang diselenggarakan oleh pondok pesantren adalah komponen kegiatan utama atau pokok dari pondok pesantren. Dari segi penyelenggaraannya seperti tersebut di atas, diserahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan kiayi atau pengasuh pondok pesantren, maksud kegiatan pengajian kitab ini terutama adalah untuk mendalami ajaran agama Islam dari sumber aslinya (kitab-kitab kuning yang dikarang oleh ulama pada abad pertengahan), sehingga terpelihara kelestarian pendidikan keagamaan untuk melahirkan calon ulama sebagaimana misi pondok pesantren.

b.Pendidikan dakwah
Pendidikan dakwah, seperti halnya pendidikan agama (pengajian), merupakan salah satu pokok penyelenggaraan pondok pesantren. Bahkan, seperti telah di ungkapakan di atas, pondok pesantren dapat berfungsi sebagai lembaga keagamaan yang menyebarkan ajaran agama Islam.

c.Pendidikan formal
Pendidikan formal diselenggarakan dalam bentuk madrasah atau sekolah umum, serta sekolah kejuruan lainnya. Dengan mengembangkan dan membina pendidikan formal di pondok pesantren, diharapkan lulusan pondok pesantren, disamping pengetahuan agama dan keterampilan praktis yang mumpuni, juga memiliki pengetahuan akademis yang bermanfaat bagi kehidupannya dikemudian hari.

d.Pendidikan seni
Pendidikan seni dimaksudkan untuk lebih meningkatkan apresiasi para santri terhadap bermacam-macam bentuk kesenian, terlebih kesenian yang berbentuk Islami.

e.Pendidikan kepramukaan
Pendidikan kepramukaan merupakan suatu sistem pendidikan di luar pendidikan rumah tangga, masyarakat dan sekolah yang sangat baik. Kreativitas, disiplin dan dinamika santri dapat meningkat dengan pendidikan kepanduan ini.

f.Pendidikan olah raga dan kesehatan
Pendidikan olah raga dan kesehatan ini besar sekali manfaatnya untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan jasmani.

g.Pendidikan keterampilan/kejuruan
Pendidikan keterampilan dan kejuruan dikembangkan di pondok untuk kepentingan dan kebutuhan para santri sebagai modal untuk menjadi manusia yang bersemangat wirasuasta (enterpreneurship) dan sekaligus menunjang pembangunan masyarakat di lingkungan pondok pesantren, jenis pendidikan keterampilan antara lain: elektronika, menjahit, anyaman perbengkelan dan lain-lain.

h.Pengembangan masyarakat
Pengembangan masyarakat di lingkungan pondok pesantren diselenggarakan mengingat potensi dan pengaruh pondok pesantren yang luas dan berada dalam masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pondok pesantren sangat baik dalam pengembangan dan pembangunan masyarakat sekitar pesantren.

i.Penyelenggaraaan kegiatan sosial
Penyelenggaraan kegiatan sosila diselenggarakan pondok pesantren merupakan kegiatan yang sangat penting dikembangkan.

2.Peran Pondok Pesantren dalam Pelaksanaan Pengembangan Masyarakat

Perkembangan masyarakat dewasa ini menghendaki adanya pembinaan anak didik yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap, pengetahuan, kecerdasan dan ketrampilan, kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat secara luas, serta meningkatkan kesadaran terhadap alam lingkungannya. Asas pendidikan yang demikian itu diharapakan dapat merupakan upaya pembudayaan untuk mempersiapkan warga guna melakukan suatu pekerjaan yang menjadi mata pencahariannya dan berguna bagi masyarakatnya, serta mampu menyesuaikan diri secara konstruktif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Untuk memenuhi tuntutan pembinaan dan pengembangan masyarakat berusaha mengerahkan segala sumber dan kemungkinan yang ada agar pendidikan secara keseluruhan mampu mengatasi berbagai problem yang dihadapi masyarakat dan bangsa.

Kini masyarakat dan bangsa di hadapkan dengan berbagai masalah dan persoalan yang mendesak, masalah-masalah yang paling menonjol ialah tekanan masalah penduduk, krisis ekonomi, pengangguran, arus urbanisasi dan lainnya. Sementara krisis nilai, terancamnya kepribadian bangsa, dekadensi moral semakin sering terdengar.

Dalam upaya mengerahkan segala sumber yang ada dalam bidang pendidikan untuk memecahkan berbagai masalah tersebut, maka ekstensi pondok pesantren akan lebih disorot. Karena masyarakat dan Pemerintah mengharapkan pondok pesantren yang memiliki potensi yang besar dalam bidang pendidikan.

Watak otentik pondok pesantren yang cenderung menolak pemusatan (sentralisasi), merdeka dan bahkan desentralisasi dan posisinya di tengah-tengah masyarakat, pondok pesantren sangat bisa diharapkan memainkan peranan pemberdayaan (enpowerment) dan transformasi masyarakat secara efekif, diantaranya adalah sebagai berikut:

a.Peranan instrumental dan fasilitator
Hadirnya pondok pesantren yang tidak hanya sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan, namun juga sebagai lembaga pemberdayaan umat merupakan petunjuk yang amat berarti. Bahwa pondok pesantren menjadi sarana bagi pengembangan potensi dan pemberdayaan umat, seperti halnya dalam kependidikan atau dakwah islamiyah, sarana dalam pengembangan umat ini tentunya memerlukan sarana bagi pencapaian tujuan. Sehingga pondok pesantren yang mengembangkan hal-hal yang demikian berarti pondok pesantren tersebut telah berperan sebagai alat atau instrumen pengembangan potensi dan pemberdayaan umat.

b.Peranan mobilisasi
Pondok pesantren merupakan lembaga yang berperan dalam mobilisasi masyarakat dalam perkembangan mereka. Peranan seperti ini jarang dimiliki oleh lembaga atau perguruan lainnya, dikarenakan hal ini dibangun atas dasar kepercayaan masyarakat bahwa pondok pesantren adalah tempat yang tepat untuk menempa akhlak dan budi pekerti yang baik. Sehingga bagi masyarakat tertentu, terdapat kecenderungan yang memberikan kepercayaan pendidikan hanya kepada pondok pesantren.

c.Peranan sumber daya manusia
Dalam sistem pendidikan yang dikembangkan oleh pondok pesantren sebagai upaya mengoptimalkan potensi yang dimilikinya, pondok pesantren memberikan pelatihan khusus atau diberikan tugas magang di beberapa tempat yang sesuai dengan pengembangan yang akan dilakukan di pondok pesantren. Di sini peranan pondok sebagai fasilitator dan instrumental sangat dominan.

d.Sebagai agent of development
Pondok pesantren dilahirkan untuk memberikan respon terhadap situasi dan kondisi sosial suatu masyarakat yang tengah dihadapakan pada runtuhnya sendi-sendi moral, melalui transformasi nilai yang ditawarkan. Kehadirannya bisa disebut sebagai agen perubahan sosial (agent of social change), yang selalu melakukan pembebasan pada masyarakat dari segala keburukan moral, penindasan politik, kemiskinan ilmu pengetahuan, dan bahkan dari pemiskinan ekonomi.

e.Sebagai center of excellence
Institusi pondok pesantren berkembang sedemikian rupa akibat persentuhan-persentuhannya dengan kondisi dan situasi zaman yang selalu berubah. Sebagai upaya untuk menjawab tantangan zaman ini, pondok pesantren kemudian mengembangkan peranannya dari sekedar lembaga keagamaan dan pendidikan, menjadi lembaga pengembangan masyarakat (center of excellence).

Sumber: www.kompasiana.com
Bagaimana Ilmu Agama Mau Berkah, Cara Mendapatkannya Saja Kurang Beradab

Bagaimana Ilmu Agama Mau Berkah, Cara Mendapatkannya Saja Kurang Beradab

Ada yang diberikan kemudahan menuntut ilmu agama dengan sarana dan fasilitas belajar yang dimudahkan, banyak majelis ilmu misalnya di pondok pesantren atau  di Universitas Madinah.  Atau ada juga yang diberikan karunia kemampuan menghapal dan menguasai ilmu akan tetapi ilmunya kurang berkah. Ilmu yang kurang berkah itu misalnya,  sulit untuk diamalkan atau tidak dirasakan menfaatnya bagi kaum muslimin atau ilmunya kurang menyebar. Adab juga sangat penting selain niat yang ikhlas.

Jika kita perhatikan, adab dan akhlak adalah sesuatu yang agak kurang diperhatikan dalam menuntut ilmu agama. Misalnya:

-Terlambat datang dan tidak minta izin dahulu, tetapi kalau gurunya terlambat langsung di telpon atau SMS: “ustadz kajiannya jadi tidak”?

-Kalau tidak datang, tidak izin dahulu (untuk kajian yang khusus) dan kajian datang semaunya

-Duduk selalu paling belakang dan sambil menyandar (tanpa udzur)

-ketika kajian terlalu banyak memainkan HP dan gadget tanpa ada keperluan

-Terlalu banyak bercanda atau ribut dalam majelis Ilmu

-terlalu Fokus ke Ilmu saja tanpa memperhatikan adab, niatnya hanya ingin memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat serta lupa memperhatikan dan mencontoh adab dan akhlak gurunya.

Sebaiknya kita memperhatikan adab dalam menuntut ilmu karena inilah yang dicontohkan oleh para ulama

1.Majelis ilmu ulama tenang dan tidak ada yang berani ribut
Ahmad bin Sinan menjelaskan mengenai majelis Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Ahmad, beliau berkata,
كان عبد الرحمن بن مهدي لا يتحدث في مجلسه، ولا يقوم أحد ولا يبرى فيه قلم، ولا يتبسم أحد

“Tidak ada seorangpun berbicara di majelis Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada seorangpun yang berdiri, tidak ada seorangpun yang mengasah/meruncingkan pena, tidak ada yang tersenyum.”[1]

2.Berusaha mempelajari adab dahulu dari Ilmu
Ibu Imam Malik rahimahullahu, sangat paham hal ini dalam mendidik anaknya, beliau memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Imam Malikrahimahullahu mengisahkan,

قال مالك: قلت لأمي: ” أذهب، فأكتب العلم؟ “، فقالت: ” تعال، فالبس ثياب العلم “، فألبستني مسمرة، ووضعت الطويلة على رأسي، وعممتني فوقها، ثم قالت: ” اذهب، فاكتب الآن “، وكانت تقول: ” اذهب إلى ربيعة، فتعلًّمْ من أدبه قبل علمه
“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah(suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.”[2]

3.Berusaha mencontoh dan meneladani adab, akhlak serta semangat gurunya
Berkata Adz-Dzahabi rahimahullahu,
كان يجتمع في مجلس أحمد زهاء خمسة آلاف – أو يزيدون نحو خمس مائة – يكتبون، والباقون يتعلمون منه حسن الأدب والسمت
“Yang menghadiri majelis Imam Ahmad ada sekitar 5000 orang atau lebih. 500 orang menulis [pelajaran] sedangkan sisanya hanya mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya.”[3]
 Dan masih banyak adab dalam menuntut ilmu lainnya.
Semoga kita bisa selalu menjaga adab menuntut ilmu dan mendapatkan berkah dari ilmu tersebut.

[1] Siyaru A’lamin Nubala’ 17/161, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah
[2] Audatul Hijaab 2/207, Muhammad Ahmad Al-Muqaddam, Dar Ibul Jauzi, Koiro, cet. Ke-1, 1426 H, Asy-Syamilah
[3] Siyaru A’lamin Nubala’ 21/373, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah

sumber: muslimafiyah.com
Tepat Waktu Saat Datang Kajian Agar Ilmu Berkah

Tepat Waktu Saat Datang Kajian Agar Ilmu Berkah

Kami teringat kisah seorang ustadz ketika mengisi kajian, beliau langsung memulai kajian walaupun jamaah yang hadir baru 1 atau 2 orang.

Alasan beliau:

1. Kita sudah menetapkan dan mengumumkan jam 8  pagi mulai kajian, maka jangan membohongi jamaah, tetap harus tepat waktu. Jika tidak, maka harus meminta maaf kepada jamaah karena tidak tepat waktu

2. Jika mereka butuh ilmu, mereka pasti akan datang tepat waktu dan menghormati majelis ilmu

3. Akan jadi kebiasaan para jamaah akan datang terlambat, karena jika datang tepat waktu bisa jadi terlambat juga mulai

Ini sebagai intropeksi kita bersama, terkadang ketika kajian, mulainya tidak tepat waktu.
Bisa jadi karena beberapa faktor yang saling mendukung

1. Sebagian jama’ah memiliki kebiasaan datang terlambat, bisa jadi karena kebiasaan datang terlambat atau merasa kajian juga paling mulainya terlambat nanti

2. Panitia kajian menuliskan jadwal kajian yang tidak sesuai dengan waktu memulainya
Misalnya kajian jam 8 pagi ditulis di pengumuman, tetapi oleh panitia mulainya jam 8.30
Bisa jadi karena menunggu jamaah agak ramai baru dimulai

Mari kita muliakan kembali majelis ilmu dengan menepati janji.
Allah berfirman,
ﻭَﺃَﻭْﻓُﻮﺍ ﺑِﺎﻟْﻌَﻬْﺪِ ۖ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻌَﻬْﺪَ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺴْﺌُﻮﻟًﺎ
“Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isrâ’/17:34)

Mari hidupkan semangat menuntut ilmu kembali, di zaman kejayaan Islam, untuk dapat hadir di majelis ilmu harus “boking” tempat juga (seperti pesan tiket) dengan cara MENGINAP DI TEMPAT YANG AKAN DIDUDUKINYA. Berkata Ibnu ‘Addi rahimahullahu,
ﻗَﺎﻝَ ﺍﺑﻦُ ﻋَﺪِﻱ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﺠﻠﺲ ﺍﻟﻔﺮﻳﺎﺑﻲ ﻳﺤﺰﺭ ﻓﻴﻪ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﺃﻟﻒ ﻣﺤﺒﺮﺓ ﻭﻛﻨﺎ ﻧﺤﺘﺎﺝ ﺃﻥ ﻧﺒﻴﺖ ﻓِﻲ ﻣﻮﺿﻊ ﺍﻟﻤﺠﻠﺲ ﻟﻨﺘﺨﺬ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﺪ ﻣﻮﺿﻊ ﻣﺠﻠﺲ

“Aku melihat majelis Al-Firyabi yang diperkirakan terdapat 15 ribu tempat tinta . Kami harus menginap di tempat yang akan di dudukinya besoknya untuk dapat menghadiri majelis .” (Al-Kamil fi dhu’afa At-Rijal
6/407, Dar Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 1418 H, Syamilah)

Inilah menjadi sebab berkahnya ilmu di zaman dahulu, mereka menghormati adab majelis, sedangkan kita jauh dari adab majelis ilmu walaupun akses ilmu mudah saat ini

sumber: muslimafiyah.com

Harta yang Pertama Kali untuk Membangun Dakwah, Itulah yang Lebih Berkah

Ketika awal-awal membangun dakwah, terkadang butuh dana awal secukupnya. misalnya:

-Dana awal untuk operasional dakwah di daerah terpencil
-Dana awal untuk membangun Radio dan TV dakwah
-Dana awal untuk bangunan sekolah Islam

Serta berbagai dana awal yang pertama kali digunakan untuk berdakwah.

Inilah harta yang lebih berkah, karena ketika membangun dakwah di awal bisa jadi agak berat dan penuh rintangan. BELUM ADA PERHATIAN BANYAK MANUSIA pada dakwah tersebut

Berbeda halnya jika dakwah sudah mulai terlihat berhasil atau ada dampaknya. Misalnya:

-Dakwah daerah terpencil berhasil dan menjadi sorotan
-Dakwah radio dan TV yang sudah berhasil
-Sekolah Islam yang sudah punya nama

BISA JADI manusia BERLOMBA-LOMBA menginfakkan hartanya dan memberikan bantuan. Ini tidak salah juga, karena wajar manusia bersemangat dengan sesuatu yang sudah nampak.

Harta yang diinfakkan pertama kali membangun dakwah, itulah yang lebih berkah. Sebagaimana harta Abu Bakar yang banyak sekali digunakan untuk dakwah Islam pertama kali

Sehingga Nabi shallalahu 'alahi wa sallam bersabda mengenai berkahnya harta Abu Bakar dalam dakwah,

ﻣﺎ ﻧﻔﻌﻨﻲ ﻣﺎﻝ ﻣﺎ ﻧﻔﻌﻨﻲ ﻣﺎﻝﺃﺑﻲ ﺑﻜر

"Harta yang bermanfaat bagi-ku adalah harta Abu Bakar" (HR. Ahmad)

Padahal banyak juga sahabat lainnya yang meng-infakkan harta lebih banyak dari Abu Bakar dan lebih sering, semisal Ustman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf

Oleh karena itu hendaknya kita bersemangat meng-infakkan harta kita untuk membangun dakwah di awal-awal atau membangun hal-hal yang bermanfaat bagi manusia.

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: MuslimAfiyah.com

Tiga Patokan Akhlak Sebenarnya Seseorang


Terkadang kita melihat sekilas akhlak seseorang luar biasa sekali baiknya. Teman-temannya menilai akhlak dan muamalahnya baik. Ternyata itu belum tentu mencerminkan akhlak aslinya atau akhlak sebenarnya. Contohnya:

-Ramah, sering membantu dan terkadang mentraktir temannya, tetapi ternyata dengan istrinya ia dzalim, tidak memenuhi hak istri, sering bentak, tidak ramah di keluarga dan ada salah sedikit langsung marah dan emosi

-Ada juga yang baik, ramah, sebagai atasan ia baik dan memudahkan urusan bawahannya akan tetapi ternyata masalah muamalah harta ia khianat, bisnis sering menipu, harta umat dan orang ia korupsi dan sering menumpuk hutang

Wal’iyadzu billah

Tetapi ingat! Kita harus menilai seseorang secara dzahirnya, tidak boleh berburuk sangka

“Jangan-jangan sama istrinya dzalim” dan sebagainya

Syariat mengajarkan tiga patokan akhlak sebenarnya seseorang.

Ini digunakan untuk menilai akhlak seseorang dan sekaligus poin yang harus kita perhatikan bersama untuk muhasabah akhlak kita. Hendaknya kita punya waktu-waktu khusus untuk terus memperbaiki akhlak dengan cara berusaha mengevaluasinya secara rutin dan berkala.

Jangan kita mengaku beriman jika akhlak kita rusak dan tidak baik, karena akhlak adalah cermin keimanan seseorang sebagaimana dalam hadits.[1]

Tiga poin tersebut adalah:

1.Muamalah dengan Istrinya/ Bagaimana testimoni Istrinya

Karena yang paling baik baik akhlaknya adalah paling baik dengan Istrinya[2]

Karenanya testimoni Istri-Istri Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat baik yaitu akhlak beliau adalah Al-Quran

Bisa jadi ia baik dengan orang luar karena memang statusnya rendah di masyarakat misalnya (maaf) hanya jadi cleaning servise. Tentu akhlaknya akan baik (tidak berani macam-macam dan tidak “berulah”)

Tetapi dengan istrinya ia kasar, dzalim dan tidak menunaikan hak-hak Istri

Poinnya: akhlak seseorang bisa dilihat ketika kapan Ia berkuasa dan leluasa atau bisa saja berbuat dzalim tetapi ia mampu menahannya.

2.Muamalah ketika safar

Karena safar dahulu adalah saat-saat sulit dan sebagian dari adzab. Ketika  senang semua bisa jadi teman tetapi ketika susah belum tentu semua bisa jadi teman yang baik.

Inilah yang dijadikan patokan oleh Umar bin Khattab ketika ada orang yang merekomendasikan kebaikan seseorang.[3]

Poinnya: ketika masa-masa sulit kemudia anda punya teman, itulah teman sejati anda dan itulah akhlaknya yang sebenarnya.

3.Muamalahnya dengan urusan harta

Karena harta adalah salah satu fitnah/ujian terbesar  umat  Islam. [4]

Bisa jadi gelap mata karena harta. Karena warisan anak dan paman bisa saling bermusuhan bahkan saling bunuh. Bisa jadi tidak amanah ketika bisnis dan berdagang.

Akhlak baik dan sering membantu ternyata korupsi harta umat.

Ini juga yang dijadikan patokan Umar bin Khattab ketika ada orang yang merekomendasikan kebaikan seseorang.[5]

Semoga Allah selalu memperbaiki  akhlak kita karena yang paling banyak memasukkan ke dalam surga adalah akhlak yang baik.[6]

Demikian semoga bermanfaat

@Markas YPIA, Yogyakarta tercinta
Penyusun:  Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka,
 (HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284)

[2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya (HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284)

[3] Umar bin Khattab berkata:
فَرَفِيقُكَ فِي السَّفَرِ الَّذِي يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى مَكَارِمِ الأَخْلاقِ
“Apakah dia pernah menemanimu dalam safar, yang safar merupakan indikasi mulianya akhlak seseorang?” (Ibnu Hajar berkata, Dishahihkan oleh bin Sakan, ini dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil 8/260 no 2637)

[4] Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta” (HR. Bukhari)

[5] Beliau berkata:
فَعَامِلُكَ بِالدِّرْهَمِ وَالدِّينَارِ ، اللَّذَيْنِ يُسْتَدَلُّ بِهِمَا عَلَى الْوَرَعِ
“Apakah dia pernah bermuamalah denganmu berkaitan dengan dirham dan dinar, yang keduanya merupakan indikasi sikap wara’ seseorang?” (Idem)

[6] sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)